Adat Sasak Untuk Lingkungan Hidup

A. Adep Betanduran

untitled

Masyarakat Gumi Sasak sejak dahulu kala mengenal pola betanduran (bertani) sejak zaman nenek moyang. Dalam adat sasak sebelum menanam padi di sawah sebagai bahan makanan pokok mempersiapkan beberapa hal :

  1. Mempersiapkan bibit yang baik dari hasil panen tahun lalu yang ditempatkan pada bagian bawah lumbung, hal ini dimaksudkan supaya bibit tetap terpelihara dengan baik dan tidak dimakan hama.
  2. Jika musim hujan diperkirakan akan tiba para petani mempersiapkan diri menurunkan bibit dengan menyiapkan daun bikan, sejenis rumput, daun jeringo yang akan digunakan sebagai bubus, selanjutnya air merendam perak dan emas dicampur air rendaman empit (kerak nasi).
  3. Acara penanaman bibit dengan doa dengan harapan agar buah padi yang di tanam putih seperti perak dan kuning seperti emas. Baru kemudian bibit dihamparkan sebagai bibit.
  4. Setelah tiba waktunya untuk ditanam, bibit dicabut untuk ditanam secara bergotong royong tua, muda, laki, perempuan. Acara gotong royong sesuai jadwal yang ditetapkan oleh pekasih (petugas pengatur air).

 

B. Upacara Tong-Tong Suit

Upacara ini dilakukan apabila tanaman disawah sudah waktunya dipanen. Pemilik sawah kemudian dicari pemimpin adat untuk mengadakan upacara. Prosesinya adalah :

  1. Menyiapkan ancak, yaitu, anyaman dari bambu yang berbentuk segi empat yang digunakan sebagai pengganti nare (dulang)
  2. Ancak diisi dengan nasi sebatok  (seperiuk kecil) dengan dialasi dengan dedaunan.
  3. Di atas nasi diletakkan lekok lekes yang terdiri dari daun sirih, buah penang, tembakau dan rokok tradisional.
  4. Ancak dibuatkan onger-onger dengan daun kelapa yang diikat daun padi.
  5. Setelah selesai barulah pemimpin adat memberikan doa. Perlengkapan di bawa ke sawah untuk dipasang atau digantung di tempat saluran air pertama yang masuk ke sawah. Pimpinan adat mulai panen dengan membuat inan pade (induk padi ) yang diletakkan di atas ancak. Setelah itu panen bisa dilaksanakan.
  6. Panen diawali oleh pemilik sawah yang diiringi terune dedare (pemuda –pemudi) sambil bekekayak (pantun khas Lombok) secara spontan yang menggambarkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, menggambarkan kehidupan muda mudi, rasa cinta dan kekaguman. Pada saat ini tidak jarang perjanjian merari’ (kawin) antara pemuda pemudi.

 

C. Upacara Ngayu-Ayu

Upacara ngayu-ayu adalah sejenis upacara penghormatan kepada alam. Kodrat manusia adalah mengambil berbagai keperluan hidupnya dari alam untuk kelangsungan hidupnya, apapun wujud, cara, dan media yang dipergunakan pada hakikatnya tidak lepas hubungannya dengan pencipta, lingkungan dan sesama manusia.

Dua kebutuhan manusia yang bersifat mendasar adalah kebutuhan lahiriah dan batiniah. Terpenuhnya kebutuhan lahiriyah memberikan dampak kepada kebutuhan batiniah. Sebagai contoh terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan, dan papan akan dapat memberikan ketenangan  jiwa dan memiliki rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dengan harapan itulah upacara ngayu-ayu dilaksanakan setiap tanggal 5, 15, 25 bulan Rajab Gumi Sasak. Perhitungan tahun diperhitungkan dengan tahun Sasak yang berputar delapan tahun sekali atau di sebut windu. Perhitungan tahun windu di mulai dengan tahun Alif, tahun  Ehe, tahun Jimawal,  tahun Je, tahun Dal, tahun Be, tahun Wawu, dan tahun Jumahir. Perputaran tahun disebut tahun Penitian sedangkan penyebutan nama bulan memakai nama Hijriyah.

Upacara ngayu-ayu dilaksanakan oleh seorang Kyai, Pemangku, Krama Desa. ngayu-ayu berasal dari kata Rahayu artinya memohon keselamatan. Upacara ngayu-ayu bermula dari keyakinan masyarakat penduduk asli Gumi Sasak terhadap Tuhan Sang Penciptadan kewajiban daripada hamba yang harus menyembah.

Latar belakang kegiatan ini, mereka percaya bahwa pada zaman dahulu, Gumi Sasak didiami oleh tujuh pasangan suami istri yang hidup secara primitif tanpa mengenal peradaban. Mereka belum mengenal pakaian dan bertani. Dalam keadaan yang demikian, datanglah dua orang yaitu Raden Harta Pati,dan Raden Harya Mangujaya yang membawa perubahan kepada ketujuh orang tersebut.

Salah satu pelajaran yang diberikan oleh kedua pendatang tersebut diawali dengan pertanyaan :

  1. Maukah kalian menjadi manusia yang beradab dan berpakaian ?
  2. Maukah kalian hidup diatas tanah ini sebagai manusia selayaknya?
  3. Maukah kalian sebagai manusia yang menyembah Tuhan sebagai menciptamu ?

Ketujuh  menjawab setuju, dan pendatang melanjutkan ajarannya dengan memberikan empat macam pegangan hidup yaitu :

  1. Adat dan Agama sebagai pegangan hidup.
  2. Kitab Al-Qur’an sebagai pedoman adat dan agama.
  3. Satu ikat Padi merah sebagai makanan.
  4. Senjata untuk bertani dan membela diri.

Pada saat itu pula mereka diberi sebuah tempat yang dikenal dengan Gumi Sasak. Diakhir wejangannya kedua orang tersebut memperingati bahwa pada waktu yang akan datang kalian akan menghadapi peperangan tetapi kalian akan mendapat pertolongan. Peperangan tersebut adalah :

  1. Perang Ketupat yaitu perang melawan iblis.
  2. Perang Panah beracun
  3. Perang Bala’.

Dalam peperangan tersebut, masyarakat Gumi Sasak di bantu oleh Raden Ketip, Raden Sayid, Hamzah, Raden Patih Jorong. Ketiga penolong itu, dengan mudah mengalahkan iblis dengan melemparkan ketupat sebanyak tiga kali :

  1. Lemparan pertama pada tanggal 5 dengan mengucap tanggal lima.
  2. Lemparan kedua pada tanggal 15 dengan mengucap tanggal lima belas.
  3. Lemparan ketiga pada tanggal 25 dengan  mengucap  tanggal dua puluh lima.

Ketika lemparan ketiga dilakukan, maka tentara iblis hilang tanpa bekas, setelah selesai peperangan, Raden Ketip, Raden Sayid Hamzah, dan Raden Patih Jorong berpesan kepada masyarakat Gumi Sasak sebagai berikut

  1. Kamu harus mengambil air setiap kali panen padi sebagai tanda kemenangan terhadap iblis.
  2. Setiap tiga tahun sekali kamu harus memotong kerbau sebagai rasa syukur atas kemenangan menghadapi peperangan.

Kedua pesan tersebut dilaksanakan dalam upacara peringatan Perang Ketupat yang diperingati setiap tiga tahun sekali oleh masyarakat Gumi Sasak sampai sekarang. Inilah yang disebut sebagai upacara Ngayu-ayu.

Sumber : Bahan Ajar Muatan lokal gumi sasak untuk SD/MI Kelas IV oleh H. Sudirman dkk.

Posted on January 28, 2013, in Adat Sasak Untuk Lingkungan Hidup and tagged , , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: