Pribahasa Sasak (Sesenggak)

Sesenggak atau dalam behasa indonesianya Pribahasa. Pribahasa adalah kata kiasan yang mengandung makna tersembunyi. Pribahasa juga merupakan ungkapan yang terbuat dari kalimat ringkas dan padat, yang berisikan perbandingan, perumpamaan, sindiran, dan nasehat.

Berikut adalah pribahasa yang sering diungkapkan oleh masyarakat sasak.

  1. Aiq nyereng, Tanjung tilah, Empaq bau
  2. Alus, Alus taih jaran
  3. Bantel tolang endaraq isi
  4. Banteng belaga jerami rebaq
  5. Bau besi bau asaq
  6. Bergantung leq bulu seurat
  7. Cengiq doang maraq komak siong
  8. Kalah-kalah sokta menang
  9. Telinga lendong mata tambah
  10. Manis-manis tanduran gunung
  11. Manis-manis buak ara, Pedis pait rasan nasiq
  12. Manuq mate beromboq  taroq
  13. Maraq anak manuk ngenangne leq inana
  14. Maraq batu lawan teloq
  15. Maraq bembeq takut aiq
  16. Maraq jaren ngaken bandana
  17. Maraq manuq bayar awis
  18. Maraq miong minte begang
  19. Maraq sampi lepas
  20. Maraq sawaq wah memelot
  21. Yakna toang langit bedah
  22. No nangentut no nanai
  23. Nyenyuit leq jarem
  24. Belagaq-lagaq lekong belak
  25. Peta hati ilang kemulan
  26. Romboq-romboq lek paeq
  27. Jari-jari menik bekerem
  28. Semakanta ngajar betok ngoncer
  29. Semakanta yorong montor mate
  30. Taloante menang perasaq

rytrtrtr

1.    Aiq nyereng, Tunjung tilah, Empaq bau

a. Arti harfiah : nggambarang dengan bersifat adil

b. Terjemahan bebas : air tetap jernih, teratai tetap utuh dan ikan pun tertangkap.

c. Makna :

Pribahasa ini mengandung makna dalam sebuah keputusan haruslah diambil dengan adil dan bijaksana sehingga tidak merugikan pihak manapun juga. Makna digambarkan dengan keadaan sebuah kolam yang berkomponen air, teratai, dan ikan.

Air yang tetap jernih melambangkan ketenangan, teratai utuh bermakna tidak adanya kerusakan karena keributan, dan ikan tertangkap melambangkan keberhasilan yang diperoleh, dalam hal ini berupa keputusan yang diterapkan dari hasil musyawarah. Keputusan yang diambil dengan biijaksana akan memuaskan semua orang. Dengan demikian keributan tidak akan terjadi dan tidak akan ada yang merasa dirugikan. Pribahasa ini biasanya digunakan oleh orang tua pada saat bermusyawarah.

Dalam pribahasa ini, terkandung nilai pendidikan yang sangat berharga yakni kebijaksanaan, kedamaian dalam mencapai tujuan manusia yang berbudi. Dengan demikian nilia pendidikan ini sajalah dengan tujuan pendidikan nasional yaitu meningkatkan kwalitas manusia Indonesia yaitu manusia yang berbudi pekerti yang luhur.

2.       Alus-alus tain jaran

a. Arti harfiah : bagus luar seda dalem

b. Terjemahan bebas : halus-halus seperti tai kuda

c. Makna :

Pribahasa ini menggambarkan sifat manusia yang terlihat baik hanya di luarnya saja, tetapi sebenarnya manusia tersebut memiliki perangai yang buruk. Kotoran kuda merupakan perumpamaan bagi orang yang berperangai jelek. Kita mengetahui bau dan bentuk kotoran kuda yang baru keluar dari duburnya. Ketika kotoran itu jatuh ke tanah, kita melihatnya ada yang masih utuh dan yang pecah menampakkan keadaan yang kasar di dalamnya. Demikian juga halnya dengan watak manusia yang pandai bermulut manis, orang yang seperti ini tidak jarang kita jumpai dalam pergaulan sehari-hari.

Pribahasa ini mengajarkan kepada kia supaya sepatutnya membina prilaku dan sifat-sifat terpuji. Bertutur kata sesuai dengan nurani, bertindak atas dasar pemikiran, jangan sampai perkataan tidak sejalan dengan perbuatan. Kejujuran adalah sifat terpuji yang perlu dipelihara dalam diri manusia. Nilai ini sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yaitu meningkatkan kwalitas manusia Indonesia yang berbudi pekerti luhur

3.         Bantel tolang endaraq isi

a. Arti harfiah : Makna lelah doang endaraq hasilna

b. Terjemahan bebas : mempertahankan tulang yang tak berisi

c. Makna :

Mempertahankan sesuatu yang tidak berguna, yang tidak memberikan keuntungan sedikit pun. Jika kita memakan daging, bagian tulang merupakan bagian yang tidak kita butuhkan, bagian ini biasanya kita buang dan isinyalah yang kita ambil untuk dimakan. Mempertahankan tulang yang tak berdaging adalah sebuah perjuangan yang sia-sia. Pribahasa ini biasanya digunakan untuk menyindir orang yang terlalu bersikeras mempertahankan atau membela sesuatu yang tidak bermanfaat.

Ungkapan ini mendidik kita untuk bersikap pada tempatnya. Setiap yang penuh perjuangan memang merupakan  sikap yang baik, tetapi kita harus bisa menempatkan sikap tersebut pada tempat yang sesuai disamping itu pikiran mempuanyai peranan penting dalam hal ini. Kita harus dapat membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang tidak, membedakan sesuai  yang memberi keuntungan dengan yang hanya menimbulkan kerugian saja. Nilai pendidikan ini sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yaitu meningkatkan kualitas manusia Indonesia  yaitu manusia yang cerdas dan profesional.

4.  Banteng Belaga Jerami Rebaq

a. Arti Harfiah   :    dengan merebutang kekuasaan laguq pada-pada yakna mauq.

b. Terjemahan Bebas : Banteng yang berlaga di tengah-tengah sawah menyebabkan jerami rebah dan patah.

c. Makna

Peribahasa ini mengandung makna bahwa pertikaian yang terjadi pada dua orang pemimpin akan menyebabkan kesengsaraan dan penderitaan bagi rakyatnya. Hal ini diumpamakan dengan peristiwa yang terjadi di tengah-tengah sawah, jika kita perhatikan, banteng, sapi, atau kerbau yang sedang beradu di tengah sawah yang baru selesai dipanen, kita melihat keadaan jerami yang semula berdiri beraturan menjadi rebah tak tentu arah akibat pertarungan sapi tersebut. Demikianlah perumpamaan bagi pemimpin yang bertikai dan akibatnya bagi rakyat. Peribahasa ini ditujukan pada orang-orang berkedudukan baik dalam lingkup yang kecil maupun yang besar.

5.       Bau Besi Bau Asaq

a. Arti Harfiah : Pada mauq pada iyaq

b. Terjemahan Bebas : Besi dapat asahpun dapat

c. Makna :

Peribahasa ini mengandung makna bahwa hidup saling menolong itu dibutuhkan untuk meraih harapan atau keinginan kita. Dikatakan dapat besi dapat asah, sebab di dalam kehidupan sehari-hari ketika kita melihat seorang sedang mengasah pisau atau parangnya, jika kita perhatikan kita akan mendapatkan palsafah hidup dari kegiatan tersebut. Ketika besi digosok-gosokkan  pada asah, mata pisau atau parang tersebut akan teriris dan menipis. Hal inilah yang menyebabkan mata pisau tersebut menjadi tajam dan sebaliknya asah  menjadi halus. Dengan demikian antara besi dan asah terjadi kerjasama yang memberikan keuntungan  bagi kedua belah pihak, besi menjadi tajam dan asah semakin halus.

6.       Bergantung leq bulu surat

a. Arti Harfiah : Na ngarepang petulung dengan laguq dengan yakna mele nenulung.
b. Terjemahan Bebas : bergantung pada sehelai rambut
c. Makna :

Peribahasa ini mengandung makna bahwa manusia yagn menggantungkan hidupnya pada orang yang tak dapat diharapkan pertolongannya merupakan suatu kebodohan. Bila seseorang akan menggantungkan sesuatu, maka ia akan mencari tempat bergantung yang kuat, yang tidak mudah putus. Apabila kita menggantung pada sehelai rambut, kita akan mengetahui akibat perbuatan kita itu, benda yang kita gantung pasti akan terjatuh. Itulah perumpamaan orang yang menggantungkan hidupnya pada orang yang tidak dapat memberikan pertolongan padanya.

Sumber : Bahan Ajar Muatan lokal gumi sasak untuk SD/MI Kelas VI oleh H. Sudirman dkk.

503_C

Baca  Juga Semua Tentang Sasak Lombok pada Link Berikut :

About these ads

Posted on February 4, 2013, in Sastra Sasak and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 34 other followers

%d bloggers like this: